Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘inspirasi’ Category

toto sugito

toto sugito (foto by heru)

Jakarta sedang dibalut gerimis pada sore hari sekira pukul lima, dari kantornya di kawasan Tebet, Toto Sugito melipat sepeda yang biasa ia gunakan sebagai sarana transportasi dari rumah ke kantor, ia mengemasnya dan memberhentikan taksi, tujuannya adalah studio Metro TV di kawasan Kedoya. Jalanan padat khas jam pulang kerja  membuat taksi yang ditumpangi ayah tiga anak ini harus berhenti total di Gatot Subroto,  30 menit berlalu dan Toto masih berdiam di kawasan Gatot Subroto.

“Akhirnya saya keluar dari taksi, buka sepeda dan melanjutkan perjalanan ke Kedoya dengan sepeda. Jam tujuh nyampe tuh di Kedoya,” kisah pria yang menjabat sebagai ketua komunitas Bike To Work (B2W). (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

iim-baru

Anak ketiga dari lima bersaudara ini terlahir dari keluarga PNS. Kedua orangtuanya bekerja sebagai abdi negara. Bukan hanya itu, keempat saudara Iim Rusyamsi (35) juga sukses bekerja di instansi pemerintah. Tak heran kedua orangtua-nya berpikir bahwa jalan yang terbaik bagi anak-anaknya adalah menjadi pegawai negeri seperti jejak mereka.

Bukannya menurut dengan kehendak orangtua, segala support moril untuk menembus jalur PNS malah “disalahgunakan” Iim untuk membuktikan bahwa ia dapat hidup tanpa menjadi pegawai negeri. Itu yang mendasari ayah dua anak ini untuk berkiprah di dunia entrepreneur .

“Setiap bisnis harus punya reason, dan alas an saya adalah ingin membuktikan pada kedua orangtua bahwa saya dapat hidup tanpa harus menjadi PNS,” terangnya. (lebih…)

Read Full Post »

dokter Utami

Resepsionis itu terlongong waktu saya bilang, saya dari majalah. Tangannya yang sudah sigap hendak mengambil map-map data pasien terhenti di udara. Bibirnya belum kering dari tanya yang beberapa detik lalu ia lontarkan, “atas nama ibu siapa?”

Beberapa menit saya menunggu –sambil mengamati ibu-ibu muda bercengkrama dengan batita-nya—hingga resepsionis tadi memersilahkan saya memasuki ruangan nyaman sang dokter. Tiga pasangan dan satu ibu muda saya jumpai kala kaki menjejak lantai dingin ruangan dokter Utami Roesli.

Ya, siang ini saya ‘diundang’ mengikuti sessi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dokter Utami Roesli di sebuah klinik di Jakarta Selatan bersama beberapa pasiennya yang notabene ibu-ibu muda yang sedang mengandung anak pertama.

Saya agak tercengang saat beradu pandang dengan dokter yang juga kakak dari musisi Harry Roesli ini. wajahnya tak menunjukkan ia lahir sebulan setelah Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan. Air mukanya berseri-seri bak seorang ibu di awal tahun 30an.

Sessi ini sudah berlangsung beberapa menit rupanya, tak ingin menganggu komunikasi dokter dengan pasien-pasiennya saya menahan diri untuk tidak menyapa dan melontarkan sedikit tanya, paling tidak, hingga sessi usai.

“Memang sampai saat ini masih janggal jika ibu hamil mendatangi dokter anak,” kata sang dokter seraya tersenyum, kala kesempatan berbincang dengannya datang selepas pasien-pasiennya berpamitan.

Meski begitu, ‘gaung’ dokter Utami Roesli memang nyaring berdering, terutama soal inisiasi menyusu dini yang gencar ia sosialisasikan sejak dua tahun silam. Tak heran, banyak pasangan mendatangi dokter Utami demi mendapatkan informasi yang benar mengenai IMD serta manajemen laktasi.

Menurut cucu dari sastrawan Marah Roesli ini, sebetulnya istilah menyusu dini  sudah ada dalam buku panduang ASI sejak tahun 1993. Saat itu tenaga medis sudah kenal dengan istilah menyusu dini. “Hanya saja disana kata-katanya berbunyi, ‘bantu bayi menyusu dini’” nah, kita confusing dengan kata ‘bantu’ tadi sehingga yang ada kita repot membantu para ibu menyusui bayinya,”

Padahal, Tuhan sudah sedemikian rupa menciptakan makhluknya yang dilengkapi dengan insting. Tanpa dibantu, jika di beri cukup waktu, si bayi akan menemukan sendiri sumber kehidupannya. “At least satu jam kita biarkan dia melekat di kulit ibunya,”

Jika sebelum satu jam si bayi sudah berhasil mencapai puting ibunya, Dokter Utami menyarankan untuk tetap membiarkannya disana. “Karena point pentingnya bukan hanya pada early initiation, tapi pada lima tahap breast crawl,”

Lima tahapan tersebut adalah : Tahap pertama, 30’ istirahat siaga. Dalam tahap ini bayi akan terdiam tanpa melakukan gerak berarti di atas kulit ibunya. Tahap kedua, 30-40’ menghisap dan mencium, bayi akan mencium aroma ketuban yang masih tersisa di tangannya yang akan menuntunnya mencari putting ibu yang berbau serupa. Tahap ketiga, mengeluarkan air liur. Tahap keempat, ia mulai bergerak dan kaki menekan perut ibu. Pada tahap ini gerakan bayi akan sangat bermanfaat bagi sang ibu, pada beberapa kasus, ibu yang mengalami pendarahan akan terhenti akibat massage yang dilakukan bayi di perut ibunya. Tahap kelima, menjilat kulit ibu dan mengambil bakteri baik pada ibunya, ia akan menjilati kulit seputar payudara ibu sebelum menemukan putting dan menghisapnya.

Menurut dokter Utami, kalaupun bayi tak berhasil menyusu, menggapai puting ibu, atau bahkan hanya mendapatkan setetes dua tetes kolostrum, paling tidak jika melewati lima tahap itu dengan benar ia sudah mendapatkan bakteri baik dari ibunya serta membantu ibu menghentikan pendarahan.

Jika sedikit saja berpikir dan merenung, sebetulnya Tuhan sudah sedemikian rupa menciptakan kemudahan pada Ummatnya. Tuhan ciptakan Ibu yang memiliki air susu yang hanya cocok dikonsumsi buah hatinya.

“Kemampuan menyusu bayi berbeda-beda antara bayi satu dan lainnya, meskipun ia lahir pada menit bahkan detik yang sama,” ujar nenek dari dua cucu ini.

Bukan karena etnis, bukan karena makanan, bukan karena status sosial. “Tetapi kemampuan bayi mencerap ASI dari ibunya disesuaikan dengan kebutuhan lambungnya, dan ASI ibu dapat menyesuaikan dengan kebutuhan lambung si bayi,”

Itu sebabnya, tidak semua ASI cocok untuk bayi. Bayi hanya cocok menyusu dan mendapatkan ASI dari ibunya. “Nah, kalo antar sesama manusia aja ngga cocok bagaimana dengan susu binatang?” gugat dokter Utami prihatin. “Bahkan anak sapi saja setelah beberapa waktu ia enggan menyusu pada ibunya. Lalu kenapa malah susunya diberikan pada anak manusia?” imbuhnya.

Untuk itu, dokter Utami mengatakan jika memberikan susu formula pada anak, itu sama saja dengan mendzolimi anak. “Padahal Tuhan sudah ciptakan jalan yang begitu mudah dan murah. Lalu kenapa manusia khususnya para ibu malah mencari jalan yang susah,”

Tak terasa, jarum jam dinding di ruangan dokter Utami sudah nyaris mendekati angka empat. Beberapa kali, sang dokter pun mengecek komunikatornya. Rupanya ia sudah ditunggu sopir di bawah. Sebelum berpisah, Dokter Utami memberikan selembar kartu nama. “Di email aja kalo masih ada yang kurang,” pungkasnya seraya tersenyum. (tr)

Read Full Post »