Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2008

Apa yang terkenang dalam benak kita jika mendengar kata PKI? Barangkali ingatan akan melayang pada palu dan arit dan darah yang berceceran, yang terlukis dari film G30S/ PKI yang kerap diputar pada saat peringatan peristiwa mencekam yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 lampau.

Kekejaman PKI begitu lekat dalam ingatan. Film, buku, serta pelajaran di sekolah memberikan andil dalam benak anak bangsa tentang ‘betapa kejamnya PKI’. Membunuh, merusak, membakar, serta segudang tindakan anarkis lain yang telah membuat pemerintah mengeluarkan maklumat partai terlarang dan bahkan kejadian beberapa waktu yang lalu, pemerintah membakar buku-buku pelajaran Sejarah yang terbit hanya karena tidak mencantumkan kata PKI setelah G30S.

Sebagai anak bangsa yang pernah mengonsumsi pelajaran Sejarah di sekolah, saya tak luput dari imej itu. Hingga, di satu siang yang cukup terik, saat saya berkesempatan berbincang dengan salah satu anggota PKI di masa lalu, saya terkejut sendiri dengan kalimat yang ia beberkan : ‘anggota PKI pun menjadi korban atas peristiwa 1965,’ menjelaskan kalimatnya yang cukup mengejutkan di siang bolong, Pak Bedjo Untung (62), seorang ayah dari dua anak, pun berkisah. (lebih…)

Read Full Post »

Perempuan itu bernama Nunung Nurhayati, orang lebih mengenalnya dengan panggilan Ceu Enung. Mungkin Anda pernah melihatnya jika Anda sering bepergian melewati terminal Kampung Rambutan, karena ia sehari-hari berprofesi sebagai penjual kopi keliling di terminal antar kota tersebut.

Usianya belum lagi genap 30 tahun. Namun, kerutan di wajahnya memerlihatkan sejumlah keriput lebih banyak dari yang semestinya. Ia tinggal tak jauh dari terminal, menyewa sepetak kamar sempit untuk tempatnya melepas penat setelah seharian menjajakan dagangan. Tiga buah hati hasil perkawinannya dengan seorang pria Tasikmalaya ia titipkan di rumah orangtuanya di Kuningan. (lebih…)

Read Full Post »

Di salah satu siang di kota Lembang. Wien Muldian (36) dan teman-temannya dari Forum Indonesia Membaca (FIM) berniat mengadakan acara anak di perpustakaan komunitas di sana. Dan sebuah kebetulan, saat Wien bertandang ke rumah seorang warga, ada seorang Ibu lainnya yang pada saat yang sama sedang berada di tempat yang sama. Segera Wien pun menyapa dan mengajak si Ibu untuk berpartisipasi dalam acara anak yang akan mereka selenggarakan.

“Oh, kalau ikut harga bukunya berapa?” hanya itu sepotong tanya polos dari seorang Ibu di Kota Lembang yang kemudian membekas lama di benak Wien. (lebih…)

Read Full Post »

Jilbab putihnya yang melewati pinggul melambai diterpa angin siang Pamulang, ia mengenakan gamis hijau daun dan menyandang tas selempang. Langkahnya mantap. Sesekali dua bola matanya yang bulat mengitari jalanan, berharap ada sampah yang bisa ia ais untuk dikumpulkan.

Sekilas, tak ada seorang pun yang akan menyangka jika gadis mungil bernama lengkap Ming Ming Sari Nuryanti dengan gamis dan jilbab panjangnya ini adalah seorang pemulung. Pakaiannya bersih, aura terpelajar terpancar dari tubuhnya, senyumnya manis dan ia sangat ramah. (lebih…)

Read Full Post »

Bagi musisi baru, menerbitkan karya dengan berusaha menembus label atau recording company, seringkali menjadi hal yang muskil. Wajar saja, label biasanya ingin artis yang ada di bawah bendera perusahaannya dapat menghasilkan laba sebanyak mungkin.

Namun, bagi Zeke, vokalis dari band Zeke and The Popo (ZATP), tidak ada yang sulit asal mau berusaha dan kreatif. Dibantu teman-temannya, Zeke pun mendirikan label baru untuk menaungi ZATP. (lebih…)

Read Full Post »

Pernahkah Anda lewat atau bahkan mencicipi Pisang Pasir? Jika pernah, berarti Anda telah ‘berkenalan’ dengan ramuan bumbu si tangan dingin, Wildan (38).

Diakui pria kelahiran tahun 1970 ini jika usaha yang kini telah membuahkan enam cabang itu adalah hasil coba-coba-nya setelah mencicipi Pisang Goreng Pontianak yang booming pada tahun 2005-an. Ia termasuk salah satu pembeli yang ikut mengantri untuk mendapatkan sepotong pisang goreng.

(lebih…)

Read Full Post »

Mendengar nama kepiting, yang akan terlintas di benak saya adalah seekor binatang air yang memiliki capit tajam dan ‘seram’. Tak pernah terlintas sedikitpun bagi saya untuk menggemari olahan dari hewan yang belum lama ini dihalalkan MUI ini.

Namun, malam ini, di hadapan saya tersaji seekor kepiting di atas sebuah piring. Mas Ai, panggilan akrab untuk Arif Fadillah (33), pemilik kedai kepiting ini meminta saya menyicip makanan yang dibuatnya. Dan, ya, saat saya colek, kepiting saos asam manis ini memang boleh juga! selain bumbu yang asam-manisnya yang mengena, daging kepiting yang berhasil saya korek dari ‘rumah’nya pun sangat gurih! (lebih…)

Read Full Post »