
toto sugito (foto by heru)
Jakarta sedang dibalut gerimis pada sore hari sekira pukul lima, dari kantornya di kawasan Tebet, Toto Sugito melipat sepeda yang biasa ia gunakan sebagai sarana transportasi dari rumah ke kantor, ia mengemasnya dan memberhentikan taksi, tujuannya adalah studio Metro TV di kawasan Kedoya. Jalanan padat khas jam pulang kerja membuat taksi yang ditumpangi ayah tiga anak ini harus berhenti total di Gatot Subroto, 30 menit berlalu dan Toto masih berdiam di kawasan Gatot Subroto.
“Akhirnya saya keluar dari taksi, buka sepeda dan melanjutkan perjalanan ke Kedoya dengan sepeda. Jam tujuh nyampe tuh di Kedoya,” kisah pria yang menjabat sebagai ketua komunitas Bike To Work (B2W).
Itu hanya sekelumit cerita Toto di jalanan Jakarta dengan kemacetannya yang nyaris melegenda. Warga Jakarta, terutama mereka yang terbiasa dengan rutinitas 9 to 5 tentu paham benar kesemrawutan jalanan ibukota yang kerap memaksa untuk tua di jalan. Tak ingin menjadi salah satu yang pasrah dengan kemacetan jalan, Toto yang seorang pecinta olahraga mountain bike ini lalu berpikir untuk bersepeda ke tempat kerja.
Gagasan ini tentu saja dipandang gila. Pun istrinya, Drg. Febriana Setiawati , menentang niatan sang suami. Perempuan yang berprofesi sebagai dokter gigi dan mengambil S2 Public Health yang banyak mendalami masalah polusi udara ini paham betul ancaman polusi Jakarta bagi kesehatan suaminya. “Istri saya baru membolehkan asal memakai masker. Itu pun bukan sembarang masker. Saya searching di internet dan membeli secara online,” kata Toto.
Aktivitas pria 45 tahun ini mulai menarik perhatian teman-temannya hingga tercetuslah gagasan membentuk komunitas Bike To Work (B2W) pada 2004. Berdasarkan statistik angka, data anggota B2W dari tahun ke tahun semakin mengalami pertambahan. Pada 2004, tercatat 150 orang anggota, dan saat ini keanggotaan B2W mencapai lebih dari 11.000 se-Indonesia. Angka ini tentu membuat Toto optimis, meski B2W tumbuh nyaris tanpa dukungan dari pemerintah, jalur sepeda dijanjikan akan dibuat jika pengguna sepeda mencapai satu juta di Jakarta. Namun Toto sendiri menganggap semuanya bukan lagi target yang harus dikejar. Ia hanya ingin mengajak sebanyak mungkin orang bersepeda tanpa berpatok pada angka. “Karena bersepeda itu hemat, sehat, bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan, dan bangsa,” tegasnya.
Memang bukan perkara mudah seperti membalik telapak tangan untuk mengajak orang beramai-ramai ber sepeda, terutama menembus kesemrawutan Jakarta. Ayah dari Muhamad Yoga Anindito, Amelia Nur Adilla, Andrina Putri Syarifa ini memiliki trik yaitu dengan melibatkan public figure. Jubir presiden Andi Mallarangeng termasuk dalam pejabat yang tertular virus bersepeda Toto selain sederet nama besar lain seperti Fahmi Idris, Rahmat Witoelar, Fauzi Bowo, bahkan Presiden SBY yang pernah turut serta dalam aktifitas bersepeda sebanyak 3 kali.
Keterlibatan pejabat Negara tentu memberikan support moril bagi Toto dan kawan-kawan di B2W bahwa aktifitas mereka bukan sembarangan dan murahan. Kesan itu yang ingin ditunjukan Toto bahwa bersepeda bukan berarti miskin atau masyarakat kelas bawah. Tak dapat disangkal jika kemudian komunitas B2W pun dipandang sebagai komunitas yang eksklusif dan mahal.
“Wajar saja orang beranggapan seperti itu. Kita juga tidak dapat mencegah opini-opini yang kemudian muncul. Namun, jika boleh saya luruskan B2W sama sekali bukan komunitas yang eksklusif, saya katakan pada teman-teman di B2W bahwa kita tidak boleh menjadi eksklusif karena sesuatu yang eksklusif itu tidak akan langgeng,” urai Toto.
Meski kesan yang ingin ia ciptakan bersepeda itu bukan masyarakat kelas bawah, namun, pria yang menggemari sea food ini menegaskan bersepeda tidaklah mahal. Harga sepeda yang sangat layak untuk dikayuh jarak jauh sangat terjangkau yaitu 1.500.000-1.900.000. Bersama sebuah perusahaan sepeda terkemuka, B2W mendesain sepeda yang terjangkau dan layak kayuh jarak jauh. Bahkan mulai Maret 2009, sepeda tersebut dapat dibeli cicil dengan bunga 0%.
Keeksklusifan itu tidak ada bagi Toto dalam B2W. Menurutnya, ia malah merasakan kenikmatan di komunitas B2W dengan adanya kekeluargaan yang sedemikian kental. Apabila mereka berpapasan atau bertemu di jalanan walaupun tidak saling kenal mereka akan saling menyapa, bukan hanya saling menyapa antar teman dalam komunitas tetapi siapa saja yang bersepeda di jalan akan dianggap saudara.
“Kita semua merasakan nikmat yang sama, misalnya saya ingin berkunjung ke kota lain yang disana ada B2W, kita belum pernah ketemu tapi begitu ketemu kaya udah kenal lama, itu aneh, kaya ada chemistry. Itu nikmatnya,” tandas kelahiran 7 Desember 1963. (tr)
(wawancara sekitar awal Maret 2009)
wawancara terakhir sbg reporter