Siapa tidak mengenal acara Empat Mata saat ini. Acara yang menampilkan Tukul Arwana (45) sebagai host dan laptop sebagai ikon itu begitu lekat dalam ingatan peserta. Terutama “mantra-mantra” Tukul yang kemudian beken seperti kembali ke laptop!, puas-puass?? atau ta’ sobek-sobek mulutmu!
Keinginan, potensi, relasi, dan faktor X. Itulah empat kunci yang diyakini Tukul dalam membangun sukses. Rumusan yang ia peroleh berkat kerajinannya membaca. Dan Tukul memang membutikan rumus sukses tersebut dalam hidupnya. Bermetamorfosis dari seorang kenek (kondektur, red), sopir angkutan, sopir pribadi, sampai seorang entertaint sukses yang keberadaannya patut diperhitungkan di ranah hiburan tanah air.
Daya tarik seorang Tukul yang membuatnya laku keras terletak pada sikap apa adanya yang memerlihatkan ke’katro’an dan ke’ndeso-annya. Lawakan ala kampung yang pada awalnya tak laku dimana-mana. Bahkan, dulu ia sempat ditolak salah satu Radio karena lawakannya dinilai kampungan. Namun, justru lawakan katro dan ndeso-nyalah yang melambungkan nama ayah dari satu anak ini.
“Waktu pertama kali ditawarin di Empat Mata saya ngomong kekurangan saya di wawasan dan intelektual, saya Cuma (lulusan) SMA. Akhirnya ditransferlah laptop. Cara membawakan ya gaya saya, Cuma pertanyaan dari Tim Kreatif,” kata pria yang memiliki nama asli Riyanto ini terus terang.
Siapa sangka, jika acara yang menampilkan keluguan Tukul yang sering di cela-cela oleh bintang tamu dan pemirsanya ini meledak dan diminati banyak orang. Ia dikontrak pihak TV 7 (sekarang Trans 7) pada pertengahan 2006. awalnya untuk 13 episode, berlanjut sampai 36 episode, dan kemudian kontraknya diperpanjang setiap tahun.
Meski demikian, sukses yang diperoleh Tukul tentunya bukanlah ia dapat dengan cuma-cuma. Tukul bahkan pernah menunda satu tahun sekolahnya saat ia baru lulus SD, karena ayahnya tak mampu membiayai. “Waktu itu Ayah saya cuma mampu sekolahin di sekolah negeri, tapi nilai saya ngga cukup. Jadi, saya nunggu satu tahun biar bisa masuk sekolah negeri,” ujar kelahiran 16 Oktober 1963 ini.
Rupanya sejak kecil Tukul memang sudah dikenal lucu oleh teman dan keluarganya. Ia juga sering mengisi acara seperti tujuhbelasan di tingkat RT atau RW, hingga namanya popular bahkan sampai tingkat kelurahan. Tekad akan menjadi orang ternama juga sudah ada dalam benak Tukul kecil. “Setiap nonton pelawak di TV saya selalu bertekad bahwa suatu hari nanti saya akan muncul di TV juga dan akan ditonton oleh banyak orang,” cetus pria asal Semarang ini.
Keyakinan inilah yang selalu dipegangnya kuat-kuat. Hingga seorang temannya yang bernama Joko Dewo akhirnya menyarankan Tukul untuk hijrah ke Jakarta. “Kul, kalo kamu terkenal di daerah kamu ngga bakal ngetop kamu harus lari ke Jakarta, Jakatra itu barometer,” ujar Tukul menirukan ucapan Joko Dewo. Tahun 1985, hijrahlah Tukul ke Jakarta dengan segenap obsesi dan pengharapan.
Jakarta memang tetap menjadi Jakarta. Tetap menjadi ibukota yang kejam bagi para pendatang baru yang menaruh banyak pengharapan. Di tahun 1994, Tukul sempat ingin pulang kampung karena hidupnya justru tidak maju-maju di Jakarta. Namun, ia keburu ingat bahwa pulang kampung sebagai orang yang tidak berhasil juga lebih menyakitkan ketimbang ia hidup susah di Jakarta.
Selama hidup di Jakarta ia kemudian menjadi sopir dan hidup susah. Meski demikian, nyalinya cukup besar untuk menikahi seorang gadis asal Padang, Susiana, pada tahun 1995. Selama menjadi sopir, Tukul kerap mengeluarkah keluh kesahnya pada seorang sahabat yang bernama Ramon Tommybens. Hingga suatu hari Ramon merasa jengah di’keluhi’ terus oleh Tukul.
“Ramon akhirnya kasih saya buku, nih Kul, daripada ngeluh terus mendingan kamu baca buku ini,” ujar Tukul menirukan Ramons. Buku itu sebuah buku motivasi hidup yang bertema bagaimana cara menikmati hidup dan mengatur pekerjaan anda.
Pada dasarnya, Tukul memang sudah senang membaca sejak kecil. “Cuma ya waktu kecil itu bacaannya primbon dan fengshui,” ujar Tukul tergelak. Ia pun tak kesulitan menamatkan bacaan itu.”Bukan Cuma dibaca ya, tetapi juga dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ayah Novita Eka Afriana (11).
Mempraktekan buku-buku motivasi dalam kehidupan sehari-hari terbukti memang memberikan dampak positif bagi kehidupan Tukul selanjutnya. Ia menganggap semua yang ia dapatkan ibarat vitamin dan invest untuk masa depannya. “Invest itu kan ngga harus uang. Misalnya saya mempelajari bagaimana caranya menyenangkan oranglain, dan saya mempraktekannya, itu sudah invest. Suatu saat saya yang mengalami hal itu dari orang lain,” tukasnya berfilosofi.
Meski terhitung susah, ia tak lagi mengeluh. Ia mencamkan teori yang didapat dari buku. “Saya tetap bertekad menjadi pelawak sukses. Keinginan dan potensi sudah ada, tinggal relasi. Nah, saat menjadi sopir itu saya sadar bahwa relasi saya ternyata bukan relasi pelawak,” kisah pria yang dimasa kecilnya bercita-cita menjadi insinyur ini.
Mulailah Tukul mencari relasi pelawak yang ia maksudkan. “Saat itu pelawak-pelawak banyak ngumpul di TVRI, mulailah saya mendekatkan diri kesana, tahun 1989,” kenangnya. Masa susah masih menerpa Tukul meskipun ia sudah bergabung dengan para pelawak dan sesekali muncul di TV.
Hingga kemudian public mulai mengenal namanya saat ia ikut dalam syuting video klip Joshua diobok-obok pada tahun 1997. Nama Tukul Arwana semakin melambung ketika TPI mempercayakannya Tukul menjadi Host acara musik Aduhai dan Acara Dangdut Ria di Indosiar. Dan namanya kian melesat sekarang ini host talks show Empat Mata yang telah mengubah hidupnya nyaris seratus persen!
Hasil jerih payahnya mulai kelihatan. Jika dulu ia lontang-lantung di rumah kontrakannya di Blok S, sekarang Tukul sudah memiliki 3 rumah kontrakan dan 2 rumah besar di Cipete Utara. Di rumahnya Tukul mengumpulkan teman-teman seniman pelawak dari daerah dan membuat markas kecil ajang tukar pikiran dan meramu ide kreatif lawakan. Markas kreatif ini dinamakan Posko Ojo Lali.
Saat ini ia mengaku tidak ada yang berubah dari kehidupannya, selain waktunya yang semakin sedikit untuk keluarga. Ia juga mengaku pernah mendapatkan protes dari anak semata wayangnya, Vita mengenai kebiasaannya bercipika-cipiki dengan bintang tamu.
“Saya jelaskan sama Vita kalau itu adalah bagian dari pekerjaan, dan karena anak saya sudah besar jadi dia mengerti,” ujar Tukul. Ia juga menekankan pentingnya pelajaran agama untuk anaknya hingga memasukkan Vita ke sekolah Islam.
“Ini juga karena saya sempat mengenyam sekolah Islam juga sewaktu kecil,” tandasnya. Meski mengaku masa kecilnya sering berbuat usil namun tidak sampai ke tindak kriminal. “Kalau sampe nyolong sandal di masjid gitu ya ngga-lah,” pungkasnya. (tr)
Ini dia tokoh favorit saya, setiap nonton tv dia berusaha banget
untuk tetap low profile, tapi nggak bsa karena wajahnya memang
mudah dihapalin…:)
Buku motivasi memang menggugah dan membuat kita jadi luar biasa dari yg dulunya biasa-biasa saja. Motivasi2 menggugah juga ada di Change to be Super. Temukan resep-resepnya