Laki laki itu, sebut saja bernama Ronny (bukan nama yang sebenarnya), berasal dari Demak. Ia datang ke Jakarta demi penghidupan yang lebih baik. Namun, dalam usia yang relatif muda, ternyata nasib telah mendamparkannya ke balik penjara.
Ia mau bercerita, setelah sebelumnya mewanti-wanti untuk tidak menyebut nama dan menampakkan foto dengan jelas. “Pacar saya dan teman-teman di kampung ngga tahu kalo saya pernah masuk tahanan,” urainya sembari tersipu.
Sabtu pagi di pertengahan bulan Juni 2005, Ronny memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Padahal saat itu ia masih tercatat sebagai siswa kelas 2 di SMAN I Telogorejo, Demak. Dan kedua orangtuanya tidak mengizinkan ia pergi.
“Waktu itu semua uang dan tabungan saya diambil orangtua, karena mereka khawatir saya pergi,”kenangnya. Namun, perlakuan orangtuanya tidak meluluhkan hati Ronny untuk mengurungkan niatnya.
Tekad Ronny sudah bulat, kehidupannya di kampung halaman dirasa tidak menjanjikan. Sebetulnya kedua orangtua Ronny bukan orang yang sama sekali tidak berada. Namun, mereka tidak mengizinkan Ronny sekolah dan bahkan tidak membiayai sekolah Ronny. Siang pulang sekolah, Ronny membanting tulang dengan menjadi kuli pengikat tembakau dan membantu jual gorengan. “Kalo aku begini terus kapan aku maju, kapan aku dipandang orang,” gumamnya pada saat itu. Lalu ia meminjam tabungan adiknya untuk ongkos dan bekal di perjalanan.
“Saya pinjem uang adik sebanyak Rp. 80.000,” setelah itu Ronny berpamitan pada kedua orangtuanya. “Mereka meneteskan air mata, saya tahu mereka saat itu tidak mengikhlaskan saya pergi,” kenang Ronny berkaca-kaca.
Berbekal Rp. 80.000, Ronny berangkat dengan kereta ekonomi jam lima sore. Ia berempat dengan temannya dan seorang keponakan jauh. Harga tiket kereta ekonomi saat itu Rp. 36.000. “Sisanya buat makan dan bekel selama belum dapat pekerjaan,” bisa dibayangkan dengan jumlah rupiah yang tidak lebih dari 60.000 tersebut, Ronny harus mempertahan diri di kota Jakarta tanpa pekerjaan.
“Banyak puasanya, mbak,” cetus anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Beruntung ia tak lama mendapatkan pekerjaan. Hanya saja, tanpa gaji. Hanya diberi makan sehari dua kali. “Pekerjaan kasar, jadi tukang batu,” kenangnya. Awal datang, ia bekerja di kawasan Tangerang, Banten. Selang beberapa minggu, seorang teman mengajaknya untuk bekerja ke Jakarta, di daerah Puri Kembangan.
Di minggu ketiga Ronny bekerja di Puri Kembangan, pada satu hari yang nahas, saat ia sedang menyantap makan siang di sebuah warung tegal. Ada seorang anak yang berasal dari Lampung dan mencari masalah dengan meminta uang pada temannya. Pada saat anak itu hendak keluar dari warteg, tanpa sengaja ia tersenggol kaki Ronny. Spontan, Ronny meminta maaf.
“Tapi dia malah langsung marah-marah,” ujarnya. Ronny lalu bercerita pada teman-temannya. Tak terima dengan perlakuan anak tersebut, teman-teman Ronny pun mengajaknya untuk membuat perhitungan dengan anak tersebut. Ia dengan empat orang temannya kemudian terlibat adu fisik dengan sepuluh orang dari pihak lawan. Namun, karena Ronny dan keempat temannya membawa alat sedang dari pihak lawan tidak, mereka berhasil melukai satu orang yang memang diincar. Korban tersebut, berdasarkan kabar yang Ronny dengar, mengalami cacat. Namun, Ronny sendiri tidak dapat memastikan kebenaran kabar ini.
Itulah awal yang menghantarkan Ronny kemudian harus berurusan dengan polisi. Belum sempat berbuat banyak untuk keluarganya di kampung halaman, ia malah harus mendapatkan vonis hukuman selama 1 tahun delapan bulan di lembaga permasyarakatan (Lapas) anak, Tangerang.
Kehidupan Lapas segera menjadi dunia baru bagi Ronny sejak Agustus 2005. Ia pun tak lepas dari tradisi plonco disana. “Awalnya serem,” kenangnya. Namun, justru Lapas-lah yang kemudian mengajarkan banyak hal kepadanya termasuk mengendalikan emosi. Diakui Ronny, ia bisa belajar lebih mengontrol emosinya saat menjalani hari-hari disana. Apalagi ada beberapa LSM yang saat itu aktif melakukan pendampingan di Lapas, sehingga Ronny dapat belajar banyak hal.
Boleh jadi, tinggal di Lapas (yang kemudian masa hukumannya dikurangi menjadi 1 tahun 5 bulan) memberikan efek positif bagi Ronny, seperti, pergaulan yang lebih luas serta kondisi jiwa yang lebih stabil. Akan tetapi, bagaimanapun jua ia tetap berhutang pada kedua orangtuanya.
“Awalnya orangtua saya ngga tahu. Tapi kemudian mereka melihat tayangan kriminal di salah satu stasiun TV Swasta, mereka akhirnya tahu kalo saya ada di Lapas,” ujarnya dengan mimik sedih.
Setelah mengetahui keberadaan Ronny, kedua orangtuanya segera menyurati Ronny di Lapas.
“Saya kirim mereka surat, saya bilang ngga usah diurusin, waktunya aku pulang, (pasti) pulang,” ujar Ronny. “Saya malu sekali pada kedua orangtua saya, mungkin itu akibat dari saya tidak menuruti keinginan mereka,” imbuhnya.
Januari 2006, masa tahanan Ronny di Lapas berakhir. Selama di lembaga permasyarakatan Ronny banyak menjalin pertemanan dengan orang-orang dari LSM yang mendampingi anak-anak di Lapas. Maret 2006, ia akhirnya memberanikan diri pulang ke kampung halaman diantar oleh dua orang dari LSM yang sama.
“Saya pulang dianter Mas Rahman dan Nozqa,” ceritanya. Berkat penjelasan yang dilakukan oleh Rahman dan Nozqa, dua orang aktivis yang aktif di Lapas, orangtuanya akhirnya mengerti. Bahkan mereka sangat bersyukur Ronny kembali.
“Saya diceritain kakak kalo kedua orangtua sempet nyangkain saya sudah meninggal,” ujarnya. Rupanya kabar Ronny sudah meninggal tersebut di dapat dari seorang tetangga yang mengabarkan ia dihabisi oleh keluarga korban.
Berkat penjelasan dari Rahman dan Nozqa pula-lah, kedua orangtuanya akhirnya memberi restu ia kembali ke Jakarta. Saat ini, Ronny bekerja di sebuah LSM Kebudayaan di kawasan Depok. Banyak hikmah yang akhirnya dapat ia petik dari setiap kejadian yang menghampiri hidupnya.
Ia bersyukur kini, telah melampaui semuanya. Meski demikian, banyak obsesi yang sempat tertunda. Ia ingin menanamatkan sekolah SMA-nya yang hanya sampai di kelas dua, dan sedang merencanakan untuk mengikuti ujian paket C, ia juga tengah ingin belajar bahasa Inggris dan sedang berencana untuk kuliah.
Khusus untuk belajar bahasa Inggris, sambil tersipu Ronny menjelaskan, “biar bisa lancar komunikasi sama cewekku yang bahasa Inggrisnya jago banget, mbak,” pungkasnya.
